Dalam deraian airmata yang mengalir deras, perawat tersebut menceritakan penyebab lara yang dirasa tak terperihkan itu, adalah ketika suami yang sangat mencintainya meninggal dunia, sehingga dia merasa tak ada lagi cahaya yang perlu diperjuangkan dalam kehidupan ini.

Dengan rasa empati yang tinggi, mendengar cerita itu, Soetomo ingin mencoba mengobati luka dan rasa kehilangan itu, meski dengan tetap menghormati kenangan indah yang dimiliki sang perawat. Sejak saat itulah mereka semakin dekat, kemudian menikah secara Islam.

Selanjutnya dari Blora dokter Soetomo dan isteri pindah ke Baturaja Sumatera Selatan, dan pada tahun 1919, dokter soetomo melanjutkan Studi di Universitas Amsterdam, dan Lulus pada tgl 2 Desember 1921. Kemudian melanjutkan studi ke Universitas Hamburg untuk mengambil spesialisasi penyakit kulit dan kelamin.

Baru pada tahun 1923, kembali pulang ke Indonesia dan bertugas di rumah sakit Rumah Sakit CBZ (Central Burgelijke Ziekeninrichting) di Surabaya.

Baca juga: Keterlibatan Perempuan dalam Tindak Terorisme di Indonesia