Dani adalah remaja putus sekolah yang berasal dari keluarga pra-sejahtera. Mereka juga merupakan bagian dari buruh pengepul sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Puuwatu.
Dani mengungkapkan, setiap pemilu, ia merasa ada pola yang terus berulang, dimana identitasnya sebagai kelompok marginal sering dimanfaatkan oleh para caleg untuk mendongkrak jumlah suara.
“Kaum marginal seperti kami sering digunakan sebagai alat politik. Bagi-bagi Bansos tiap jelang pemilu tak sekadar memberikan bantuan semata, melainkan upaya caleg mengikat warganya dalam ikatan pamrih politik. Kalau dibilang, sebenarnya tidak ada caleg yang peduli dengan keberadaan kami, makanya kalau ditanya soal caleg mana yang mau dipilih ya, saya jawab saja yang paling banyak uangnya itu yang nanti kita pilih,” tuturnya.
Dani mengatakan, kebanyakan dari teman-teman seumurannya juga berharap suara mereka didengar dan isu-isu yang mereka perjuangkan menjadi prioritas para calon pemimpin terpilih nantinya.
“Ya pada akhirnya, meskipun tidak diperhatikan, pilihan terakhir kita pilih saja caleg yang sering kasih bantuan, yang kita lihat di media sosial, atau caleg yang sudah pernah datang kasi bantuan untuk masyarakat di sini, itu yang kita pilih. Meskipun sebenarnya karena kami juga bagian dari negara ini, kami berhak untuk didengar dan diperhatikan,” keluhnya.
