Berbeda dengan Dani, bagi Jumadil (22), pemilu selalu menjadi masa meresahkan dan masa para caleg mengumbar janji-janji manisnya.
Bukan tanpa alasan, laki-laki yang berprofesi sebagai tukang pikul asal Muna Barat ini, pernah punya pengalaman yang tidak mengenakkan dan terus menjadi trauma yang melekat hingga saat ini karena money politics yang dilakukan oleh caleg demi mendongkrak suara.
Rumah tempat tinggal Jumadil bersama orang tuanya didatangi oleh seseorang yang diketahui juga merupakan warga satu kampungnya tersebut. Orang itu meminta untuk memilih salah satu caleg yang direkomendasikan dengan iming-iming sejumlah uang.
“Saat itu, saya dan orang tua saya didatangi (malam hari) oleh seseorang yang saya kenal. Mungkin tim suksesnya dengan tujuan mengarahkan kami untuk memilih salah satu caleg yang mereka dukung. Ia menyodorkan selembar kertas berisi surat pernyataan bermaterai agar saya dan anggota keluarga saya setuju kemudian tanda tangani,” katanya saat ditemui di tempat kerjanya di Mandonga, Selasa (16/1/2024) lalu.
Kejadian tersebut sontak mengagetkan Jumadil. Pasalnya di tengah himpitan ekonomi keluarganya, mendapatkan uang secara cuma-cuma adalah hal yang langka. Terlebih uang itu bisa didapat hanya dengan menyumbangkan suaranya.
