Komisaris Utama PT Kendari Kawasan Industri Terpadu, Herry Asiku menjelaskan, kawasan industri ini memiliki lahan seluas 1.700 hektare di Kecamatan Abeli, Kendari. Meski begitu, di tahap awal ini, baru 400 hektare kawasan yang akan dikelola, khususnya pembangunan pabrik kimia pengolahan nikel. Industri turunan pengolahan nikel ini akan menghasilkan sejumlah macam produk, seperti mangan, sulfat, dan bubuk nikel. Bahan tersebut merupakan bahan baku pembuatan baterai litium yang merupakan sumber energi mayoritas mobil listrik.

”Seperti kita tahu, Kendari dikelilingi wilayah kaya nikel dengan ratusan juta ton cadangan nikel. Ini yang ingin kami kembangkan agar memberi nilai tambah bagi banyak pihak,” katanya.  

Pembebasan lahan hingga pengurusan perizinan pembangunan kawasan industri ini ditargetkan rampung tahun 2023 ini dan beroperasi tahun 2024.  

Selain di Kota Kendari, PSN pengembangan sumber energi terbarukan di Provinsi Sulawesi Tenggara juga terdapat di Kabupaten Kolaka.  Industri strategis di kawasan Pomalaa ini adalah smelter nikel berbasis High-Pressure Acid Leaching (HPAL). Smelter tersebut adalah milik PT Vale Indonesia yang bekerja sama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Company Limited (Huayou) melalui Kolaka Nikel Indonesia atau KNI.

Ground breaking pembangunan kawasan industri Pomalaa atau Pomalaa Industri Park, dilakukan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi atau Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan, 27 November 2022. Investasi proyek ini mencapai Rp 67,5 triliun (US45 miliar). Smelter tersebut ditargetkan rampung dan mulai beroperasi pada tahun 2025.