Selain itu, pasokan gas juga akan diperoleh dari potensi gas bumi melalui gas pipa dari Lapangan ENI Muara Bakau di Selat Makassar sebesar 500 MMSCFD. Gas ini akan dimanfaatkan untuk membangun PLTGU baru di Palu dengan kapasitas 2.650 MW.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan suplai energi bersih ke berbagai smelter di Sulawesi, termasuk klaster Huadi di Sulawesi Selatan, Pomala-Ceria (Poci), dan Konawe-Morowali di Sulawesi Tenggara.
Pemerintah menyatakan bahwa harga gas untuk kedua PLTGU tersebut akan mengikuti Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sekitar 6 US$/MMBTU dan biaya transmisi sebesar 3,88 cUS$/kWh. Dengan harga listrik sekitar 11 cUS$/kWh, biaya ini dianggap cukup kompetitif untuk mendukung industri smelter.
Pemerintah juga mencatat bahwa investasi senilai US$ 14 miliar dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Sulawesi hingga tahun 2030, dengan rincian US$ 10,7 miliar untuk pembangkit, US$ 2,3 miliar untuk transmisi, dan US$ 1 miliar untuk gardu induk.
Kebutuhan listrik terbesar di Sulawesi adalah untuk industri smelter, yang diperkirakan mencapai 11.139 MW hingga tahun 2030. Saat ini, kebutuhan energi untuk smelter mencapai 20 gigawatt (GW) dan sebagian besar dipenuhi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
