Di sini ditekankan bahwa adanya hari-hari adalah hal yang pasti dan tidak mungkin diingkari; dipaparkan juga seputar keesaan Allah; kekuasaan-Nya dan kesempurnaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya; pertanggungjawaban manusia kepada Allah terhadap segala yang telah dikerjakannya yang menjadi sebuah dalil spesifik terkait kepastian adanya hari pembalasan.

Selain membincangkan landasan dasar beragama (aqaid), juga diuraikan beberapa hukum-hukum, yakni tentang makanan dan minuman yang haram dan yang halal; kebolehan perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut seperti marjan dan mutiara; dibolehkannya memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa; hukum sekaitan kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan.

Kemudian juga kewajiban memenuhi syarat dan larangan mempermainkan suatu sumpah yang diucapkan; larangan membuat-buat hukum yang tidak memiliki dasar; perintah membaca isti'aadzah (a'uudzubillahi minasyaithaanirrajiim artinya aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk) sehingga terjaga dari berbagai bentuk gangguan dari iblis dan para pengikutnya; serta membalas siksa yang melebihi siksaan yang diterima.

Dalam surat ini juga terdapat sebuah kisah, kisah Ayah dari konsep tauhid yakni Nabi Ibrahim as. Kisah nyata yang benar-benar telah terjadi dan menjadi media ajar bagi umat manusia sepanjang zaman.

Selain itu, surah An Nahl juga berisi penjelasan seputar asal-usul kejadian manusia; menjelaskan bahwa produk lebah berupa madu adalah sangat penting bagi penjagaan kesehatan dan mengobati penyakit manusia; digambarkan juga nasib pemimpin-pemimpin palsu di hari ini, sebuah pelajaran bagi seluruh manusia agar benar-benar berhati-hati ketika akan menerima tampuk kepemimpinan, benar-benar menjaga amanah penting tersebut dan tidak menjadi bagian dari pemimpin-pemimpin penipu, korup, nipotisme, pembohong dan zalim kepada orang-orang yang dipimpinnya.