Dalam situasi krisis, menurut Paloh, akan selalu ada orang yang ingin mencari keuntungan pribadi. Paloh tidak menyebut secara pasti krisis yang dimaksudnya.
“Dalam situasi yang krisis, akan selalu ada sesuatu yang melahirkan jiwa-jiwanya yang rapuh tanpa pijakan yang kuat. Sehingga muncul semangat oportunisme, coba-coba mencari untung di tengah-tengah merosotnya famous dan kepercayaan kepada lembaga-lembaga negara,” kata Paloh.
Paloh menyebut orang-orang yang dimaksudnya berasal dari kalangan terdidik dan terpelajar. Dia mengatakan, semestinya orang-orang yang dimaksud memberikan kemaslahatan kepada rakyat. Kepakaran dan saluran yang dimilikinya dalam kedudukan bernegara, menurut Paloh, memberikannya dua pilihan, pertama menyelamatkan dan kedua memanfaatkan.
“Sayang seribu kali sayang, pilihan pertama adalah jalan sunyi yang jarang diambil sebagai pilihan pertama dan tentunya yang utamanya. Kedua adalah jalan gemerlap penuh keistimewaan, di sinilah janji-janji kejayaan sebagai pribadi dihelatkan,” tegasnya.
Karena itu, Paloh mengakui banyak upaya membawa negara dan aparaturnya melayani kepentingan pribadi dan golongan.
