Ia mulai membuka usaha jahit pada 2001, bertempat di rumah kosannya. Di tahun pertama omsetnya masih begitu kurang mencapai Rp 30.000 per hari, karena banyak yang belum tahu dan belum yakin dengan hasil jahitannya. Jasa jahitnya mulai dikenal di tahun 2019 sampai sekarang.
Eri Muliana menjalaskan, pernah kepikiran untuk menggaji karyawan agar dapat membantu menyelesaikan pekerjaannya, tetapi setelah dipertimbangkan dengan kebutuhan anak dan rumah tangga, akhirnya ia tidak jadi mencari kartawan.
Dalam kesehariannya menjahit, dirinya mendapatkan 8-10 pelanggan dengan omset mencapai Rp 100.000 sampai Rp 150.000 di hari-hari biasa.
"Tapi pada saat anak-anak sekolah mulai aktif, permintaan menjahit saya bertambah banyak, dari menjahit pakaian sekolah hingga menjahit lambang-lambang anak sekolah yang membuat omset saya naik hingga Rp 350.000 sampai Rp 400.000 per hari," bebernya.
Baca Juga: Ini Nama 12 Besar Calon Anggota Bawaslu Kabupaten/Kota Zona 2 Sulawesi Tenggara
