PPP sebelum dipimpin oleh Moerdiono telah mengalami kecemasan bagi kader-kadernya sebab partai ini dibawah kepemimpin Suharso Manoarfa terkesan adem-ayem saja tampak tak ada pergerakannya menghadapi kontestasi menuju Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2024.
Kala itu Kepemimpinan Suharso dianggap lemah sehingga memengaruhi turunnya elektabilitas PPP. Hasil dari berbagai Survei menempatkan elektabilitas PPP hanya sebesar 1,4 persen.
Suharso dianggap mengalami disorientasi dalam menahkodai partai ini sehingga PPP tidak memiliki arah yang jelas dalam perjuangan politiknya. Suharso juga dinilai tidak memiliki kemampuan dalam melakukan komunikasi sekaligus konsolidasi terhadap kader-kadernya di akar rumput.
PPP dibawah kepemimpinan Suharso memang sempat melakukan geliat politik dengan bergabung bersama Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN) membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Hanya saja, Suharso tidak bisa memanaskan mesin politik partainya, maupun berkontribusi besar dalam perpolitikan nasional untuk menghangatkan situasi politik kala itu, ditambah fakta miris Suharso bukan sosok yang memiliki nilai jual dalam perpolitikan.
PPP akhirnya berganti kepemimpinan dibawah Pelaksana Tugas (Plt) Moerdiono. Pergantian kepemimpinan ini ditenggarai karena adanya tangan Penguasa Politik yang ikut campur dalam internal partai demi menyelamatkan nasib partai Islam jadul ini.
