Data Dikmudora menyebutkan, angka putus sekolah  tahun 2019 untuk tingkat SD sebesar 0,10 persen dan SMP 0,26 persen.

Angka itu meningkat di tahun 2020 menjadi tingkat SD sebesar 0,25 persen dan SMP sebesar 0,5 persen.

Kadis Dikmudora Kota Kendari Makmur menjelaskan, meningkatnya angka putus sekolah terjadi akibat pandemi COVID-19. Yang mana sebagian siswa kesulitan mengakses sistem pembelajaran jarak jauh secara online atau daring.

Baca Juga: Mahasiswa IAIN Kendari Dapat Bantuan Beasiswa Rp 750 Juta dari Pemkab Bombana

"Ada beberapa penyebab di antaranya, ada siswa yang tak punya gadget, tidak bisa akses pembelajaran secara daring, tak ada kontrol orang tua karena sibuk bekerja, tingginya angka pengangguran sehingga orang tua sibuk mencari nafkah," kata Makmur.