"Harusnya ada saluran air yang keluar di sela-sela bangunan. Saya juga bingung dengan perencanaannya ini proyek," ucap pria asal Muna itu ketika ditemui wartawan ini.
Ia menambahkan, masalah lain datang ketika proses pekerjaan penimbunan berjalan. Titik yang ditimbun bakal melintasi bangunan selasar yang kini menjelang proses perampungan.
Bila sering dilintasi, maka dapat dipastikan bangunan selasar tersebut rusak.
"Pasti timbunannya dibuang di luar. Karena mobil truk tidak mungkin mau lewat di selasar ini," tambahnya.
Salah satu warga Majapahit, Kecamatan Batauga, La Rizalan, menyoroti kinerja pemerintah terhadap kejadian itu. Pasalnya, tak sedikit anggaran yang dikucurkan pada proyek tersebut.
