Meski mampu menjual puluhan potong setiap hari, pendapatan yang diperoleh tidak selalu sebanding dengan jumlah dagangan yang terjual. Kenaikan harga sejumlah bahan baku membuat biaya produksi ikut meningkat.

Minyak goreng, tepung terigu, dan bahan lainnya menjadi komponen pengeluaran yang harus diperhitungkan. Kondisi tersebut mendorong Subaedah menyesuaikan harga jual ayam kentaki agar usahanya tetap dapat berjalan.

Harga yang sebelumnya dipatok Rp 8.000 per potong kemudian naik menjadi Rp 9.000. Saat ini, ayam kentaki buatannya dijual dengan harga sekitar Rp 10.000 per potong.

Penyesuaian harga tersebut menjadi salah satu cara menghadapi perubahan biaya produksi. Namun, tantangan lain muncul ketika sebagian dagangan tidak habis terjual hingga akhir hari.

Subaedah mengatakan, sisa dagangan dapat mengurangi keuntungan karena modal yang digunakan untuk membeli bahan baku dan mengolah ayam sudah dikeluarkan sejak awal. Jika masih tersisa sekitar 10 potong, uang yang seharusnya kembali sebagai hasil penjualan ikut tertahan pada produk yang belum terjual.