Ia mengaku, biaya operasional sebelumnya diambil dari pungutan sampah Rp 10.000 per rumah tangga. Kalau dihitung semua hasilnya hanya berkisar Rp 300.000 paling tinggi.
Dengan operasional Rp 300.000 itu, kata Tores, tidak cukup untuk memenuhi bahan bakar kendaraan yang tiap hari beroperasi. Selain itu kebutuhan oli dan ban yang harus diganti per periodik juga tidak cukup. Terpaksa mereka pun kerap mengeluarkan gocek pribadi.
Ia berharap keluhan ini segera diperhatikan oleh pemerintah, dalam hal ini pemerintah kecamatan dan dinas lingkungan hidup.
"Kami makan tidak tunggu 12 bulan, begitu pun dengan operasional kendaraan, tidak tunggu 12 bulan baru butuh, tetapi tiap bulan harus dibutuhkan," ujarnya.
Senada dengan Tores, salah satu operator Kelurahan Mata Air, Sudin juga menyampaikan keluhan serupa, selama bekerja sebagai operator roda tiga pengangkut sampah.
