Ketika sedang menyaksikan Tari Hesurabi ini, wisawatan akan melihat sekolompok pria dan wanita dengan menggunakan kostum bercorak tenun khas Wakatobi menari di atas panggung dengan berbagai properti yang disebutkan tadi, yakni tombak, ompo dan obor sebagai lambang penerangan saat menyuluh ikan di malam hari.

Penari laki-laki pada Tari Hesurabi memegang obor sebagai lambang menyuluh ikan pada malam hari. Foto: Repro Telusuri.id

 

Prosesi tarian bermula ketika para penari berbaris di pinggir panggung. Para penari pria masuk terlebih dahulu untuk memantau kondisi laut dan langit. Mereka lalu memanggil para perempuan, menggoda mereka, lalu mengabarkan bahwa air laut sudah surut dan bulan purnama telah tiba. Para perempuan lalu melenggak-lenggok datang. Lantas, berpasang-pasangan mereka menari, menggambarkan kegembiraan menyuluh di pasir menggunakan alat sederhana seperti obor.

Dalam tarian, para penari juga menggambarkan hasil dari menyuluh yang tidak habis sekadar untuk dikonsumsi sendiri atau dijual, namun juga dibudidayakan sebagai tabungan untuk masa depan. Bagi masyarakat setempat, ini memang sudah jadi kebiasaan yang turun-temurun, seperti yang disampaikan oleh Sariono, Ketua Forum Pesisir Wakabibika yang mengelola desa wisata ini.

Para penari wanita memegang wadah dari anyaman bambu yang diberi nama ompo. Foto: Repro Telusuri.id