Rasulullah sering memaafkan bukan karena terpaksa atau karena tidak mampu membalas. Melainkan karena beliau mempunyai kasih sayang dan keikhlasan sempurna. Sikap ini beliau contohkan bukan karena adanya paksaan, tetapi semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah.
Baca Juga: Ini 6 Wasiat Rasulullah SAW Sebelum Wafat
Menurut Imam Al-Ghazali, memaafkan yang hakiki adalah ketika seseorang berhak dan mampu untuk membalas perbuatan seseorang, namun hak itu dilenyapkan atau digugurkan, sekalipun orang tersebut berkuasa untuk membalas.
Sikap tawadhu, bukan berarti merendahkan martabat. Ini justru menambah ketinggian akhlak. Rasul berpesan, “Rendah hati itu tidak menambah seseorang melainkan ketinggian. Karena itu bersikaplah rendah hati, pasti Allah akan meninggikan derajatmu.”
Rasulullah juga senantiasa memberi tanpa pamrih. "Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak.” (QS 74:6).
