Yang selalu menghidup-hidupkan semangat penulis, adalah lantaran memori dan pikirannya tetap berfungsi baik. Dalam sakitnya, ia masih mampu menyediakan bahan bacaan dalam buku refernsi dan melakukan koreksi awal naskah.
Penulis bimbang. Maju- mundur untuk menuntaskan penulisan. Hilang-hilang timbul "benang merah" antara tema sentral dan isi substansi yang telah disusun sebelumnya.
Setiap kali menghadapi PC dan mulai mengetik, baru selesai dua atau tiga paragraf, tetiba terhenti. Hati ini terasa ingin selalu berada di dekatnya mendengarkan ucapan-ucapannya yang menunjukkan kemauan keras untuk cepat sembuh.
Dalam kondisi seperti itu, berkelebat bayangan wajah Ipda Suhardi. Perwira pertama Brimob ini selalu menunjukkan kemauan keras untuk belajar banyak, baik dalam menggali bahan dari narasumber maupun menuliskannya. Beda dengan ketika ia berseragam Brimob. Sarjana hukum dan luluan S2 manajemen ini, banyak bertanya dan kritis.
Saking lelahnya, ketika penggalian bahan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), demikan belakangan dia buka kartu, "Kalau bukan Pak Sur yang lebih berusia daripada saya, mungkin saya akan memilih tinggal di kamar saja."
