Kalau cara berpikir seperti itu dipakai, malah konsepnya menjadi abnormal. Karena 500 TKA itu masuk di tengah pendemi COVID-19 ini merupakan hal yang tidak lazim dan tidak boleh terjadi, tapi dibuat terjadi. Sehingga menjadi abnormal, sebab membangkitkan kondisi emosional, kecemasan dan depresi masyarakat Sultra yang tidak sesuai dengan situasinya.

Baca juga: Gelombang Pertama TKA Asal China Tiba di Sultra 24 Juni

Olehnya itu, ia sangat protes dengan statemen Gubernur Ali Mazi, yang dilansir Antara pada Senin bahwa, masuknya para pekerja asing ini juga demi bergairahnya kembali aktivitas perekonomian masyarakat di kawasan industri Morosi, termasuk di Sultra yang sempat sepi akibat virus Corona.

"Lho, Bapak Gubernur tidak boleh aneh-aneh begini statemennya. Masa iya harus masuk TKA baru bisa bergairah itu aktivitas ekonomi masyarakat kita. Ini bukan kebijakan, tapi kepasrahan seorang Gubernur akibat tekanan orang-orang di Pemerintahan Pusat dan pemodal," tegasnya.

Selain itu, Ia melanjutkan, penolakan TKA berkaitan dengan momen ini  adalah isu aktual yang menjadi perhatian dan meresahkan publik Sultra secara luas, khususnya semenjak pendemi COVID-19 terjadi.