Kemerdekaan sebagai Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, harus diakui telah banyak memberikan transformasi dalam kehidupan berbangsa.
Namun, bukannya tak mensyukuri nikmat kemerdekaan ini, saya merasa agak ironi. Benar, negeri kita telah merdeka, akan tetapi aroma keterjajahan masih saja ada. Sikap kita kepada sesama anak bangsa kadangkala masih diskriminatif. Hukum terkesan hanya milik orang yang berpunya. Ibarat pisau, tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.
Meskipun telah lepas dari cengkraman penjajah, tapi antara sesama masih saling mencurigai. Dendam tak berkesudahan, tak jarang pula berujung perpecahan. Konflik fisik beberapa tahun lalu, cukuplah menjadi bukti betapa simpul persaudaraan kita sesama anak bangsa perlahan mulai mengendur.
Isu-isu tak produktif dan provokatif mengalir tanpa hentinya. Bahkan telah mempolarisasi persatuan dan kesatuan kita. Di linimasa media sosial saat ini, begitu banyak konten yang saling menghujat dan “nyinyir”. Bukankah semua itu hanya akan semakin melemahkan semangat persatuan bangsa?
Kesejahteraan dan keadilan sosial sebagai tujuan kemerdekaan itu, akhir-akhir ini justru berada dalam bayang-bayang semu. Terlebih lagi saat pandemi seperti saat ini, membuat bangsa kita kian terpukul. Resesi ekonomi pun menjadi kekhawatiran banyak pihak. Semoga saja tak terjadi.
