Kedisiplinan Absurd

Sebagian dari kita acapkali bersikap ambigu. Dengan lantang kita menentang kekerasan, tapi laku kita justru bagian dari kekerasan itu sendiri. Kita menolak penjajahan, tapi tanpa disadari kita bagian dari “penjajah” itu sendiri. Absurd sekali, anehkan?

Merdeka Belajar begitu populer dalam dunia pendidikan, tapi tak jarang dalam prakteknya, kita tak ubahnya sedang menjajah hati dan perasaan peserta didik.  

Kita jejali kepala peserta didik dengan setumpuk pengetahuan teoritik tanpa peduli apakah mereka paham atau tidak. Kita lalai mengisi ruang hati dan pikiran mereka dengan kreativitas dan kebahagiaan. Kita lebih mengutamakan memberikan asupan pengetahuan, namun kita lupa menghiasi kepribadian mereka dengan akhlak. Akhirnya mereka pun mengalami split personality.

Sikap sebagai powerman dan memposisikan (sebagian) guru sebagai satu-satunya sumber kebenaran di sekolah adalah bagian dari upaya pengkerdilan potensi peserta didik. Kreativitas peserta didik menjadi terpasung oleh sikap kita sendiri. Hasil dari pola pendidikan itu lambat laun akan melahirkan produk pendidikan yang miskin kreativitas, tak mandiri dan hanya mampu menjadi generasi peniru.