Dinamika Dialektis Hari Lahir Pancasila
Di era pemerintah Orde Baru melalui Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) pernah melarang peringatan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila pada tahun 1970.
Kemudian polemik makin menajam, dan makin menjauh dari riilnya jalan sejarah kelahiran Pancasila, ketika tahun 1981 Prof. Dr. Nugroho Notosusanto melakukan rekayasa politik melalui bukunya “Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara” yang menggunakan dan menganggap tafsir Pancasila versi Muh. Yamin sebagai satu-satunya sumber yang sah.
Meski tidak menggunakan metodelogi penggalian sejarah sebagaimana mestinya, terutama dalam tahap “Heuristik” (mencari sumber), Prof. Dr. Nugroho Notosusanto menyatakan bahwa penggali Pancasila itu ada tiga orang, yaitu: Moh.Yamin, Supomo, dan Soekarno.
Dan sebagai ilmuwan yang juga politikus, untuk mengamankan pendapat kelirunya ini, Prof. Dr. Nugroho Notosusanto memberikan embel-embel yang seakan bijak terhadap pendapatnya tersebut dengan mengatakan bahwa “Seorang sejarawan yang baik, tidak akan malu mundur, kalau kemudian ditemukan bahan bukti yang lebih kuat dari yang dimilikinya”.
