Visual Alam Sulawesi Utara Perkuat Atmosfer
Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah lokasi di kawasan Manado dan Tomohon. Lanskap pegunungan, hutan, serta permukiman desa menjadi bagian penting dalam membangun suasana visual film.
Palet warna yang cenderung gelap dan earthy digunakan untuk menyesuaikan latar tahun 1980-an. Penggunaan pencahayaan minim pada sejumlah adegan malam memperkuat kesan sunyi dan terisolasi.
Selain visual, desain suara menjadi elemen lain yang cukup dominan. Bunyi langkah di tanah basah, hembusan angin hutan, hingga suara jubah Songko dimanfaatkan untuk membangun ketegangan secara perlahan.
Pendekatan tersebut membuat film tidak bergantung penuh pada kemunculan hantu secara tiba-tiba. Atmosfer menjadi alat utama untuk menjaga rasa cemas penonton sepanjang cerita berlangsung.
