AUSTIN, TELISIK.ID - Tesla membukukan pendapatan US$28,05 miliar pada kuartal III 2026, praktis tidak berubah dibandingkan US$28,10 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba per saham non-GAAP tercatat US$0,48, melampaui konsensus analis sekitar US$0,45, tetapi turun dari US$0,50 pada kuartal III 2025. Sementara itu, laba bersih GAAP merosot 43 persen menjadi US$787 juta, atau US$0,22 per saham, dari US$1,37 miliar pada tahun sebelumnya.

Laba operasi Tesla juga melemah tajam. Laba operasi GAAP tercatat US$718 juta dengan margin operasi 2,6 persen, turun 56 persen dari US$1,62 miliar pada kuartal III 2025 yang marginnya mencapai 5,8 persen. Meski demikian, kinerja tersebut membaik dibandingkan kuartal II 2026, ketika laba operasi hanya US$398 juta dengan margin 1,4 persen. Perbaikan kuartalan ini menjadi sinyal awal pemulihan profitabilitas setelah tekanan pada paruh pertama tahun ini.

Dari sisi volume, Tesla mengirimkan 486.532 kendaraan selama kuartal III 2026, turun sekitar 2 persen dibandingkan 497.099 unit pada periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut tetap melampaui ekspektasi analis yang berada di kisaran 461.000 hingga 462.000 unit. Produksi tercatat 464.391 unit, sehingga pengiriman melampaui produksi sebanyak 22.141 unit dan persediaan kendaraan menipis untuk kuartal kedua berturut-turut.

Latar Belakang Kinerja Kuartal III

Kuartal III 2025 menjadi pembanding yang berat karena pembeli di Amerika Serikat berbondong-bondong mengambil kiriman kendaraan sebelum kredit pajak federal senilai US$7.500 berakhir pada 30 September 2025. Kondisi tersebut membuat rekor pengiriman tahun lalu sulit diulangi pada tahun ini. Secara kuartalan, pengiriman justru naik sekitar 1,3 persen dari 480.126 unit pada kuartal II 2026. Model 3 dan Model Y masih mendominasi dengan 478.237 unit pengiriman, sedangkan model lain hanya menyumbang 8.295 unit.

Tesla menyebut ketersediaan baterai sebagai faktor pembatas utama peningkatan volume kendaraan pada kuartal ini. Perusahaan juga menyatakan mengakhiri kuartal dengan pesanan tertunda atau backlog kendaraan penumpang terbesar dalam empat tahun terakhir. Penjelasan tersebut muncul bersamaan dengan penurunan harga jual rata-rata kendaraan, yang menurut Electrek tidak lazim bagi produsen yang mengaku terkendala pasokan. Ketegangan antara klaim keterbatasan pasokan dan penurunan harga menjadi salah satu catatan penting dari laporan ini.