KENDARI, TELISIK.ID - Kun Rabbaniyyan, wala takun sya'baniyyan wala Ramadhaniyyan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang Rabbani, bukan menjadi hamba-hamba bulan Syaban atau Ramadan.
Demikian pesan ulama kepada alumni Ramadan. Kita semua, yang telah sukses melewati Ramadan dengan berbagai seperangkat gemblengannya. Mengelak bujuk lapar-haus, mendidik gerak nafsu, menekuni tapa dalam penuh integritas.
Di awal Syawal, umat muslim bergembira ria dalam perayaan salat Idul Fitri yang penuh khidmat. Walau dalam masa pandemi COVID-19, citra Syawal tetap terurai lugas dalam sebaran kata mohon maaf lahir dan batin. Muslimin-muslimat menyadari segala khilaf-lalainya sebagai manusia.
Di bulan Syawal disunnahkan untuk menggelar puasa Syawal. Tak main-main ganjaran pahalanya, seperti berpuasa sepanjang tahun.
Kehadiran Syawal bukanlah mendepak Ramadan. Ramadan dan Syawal, juga bulan-bulan setelahnya, saling berdekap dalam romansa harmoni. Seperti nasihat ulama di atas, Ramadan memang istimewa. Namun, seistimewa Ramadan, ia hanyalah momentum untuk mengantarkan kita melebur dalam sadar ketuhanan dan kemanusiaan.
