Ia menyoroti persoalan kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, fakultas tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan jumlah lulusan, tetapi juga harus memastikan kualitas dan kemampuan mereka sesuai kebutuhan masyarakat serta industri.

Arba menyebut, setiap tahun Fakultas Farmasi menghasilkan sekitar 400 apoteker. Namun, menurutnya, masih terdapat lulusan yang belum terserap di dunia kerja sehingga diperlukan penyelarasan antara proses pendidikan dan kebutuhan lapangan.

Selain pendidikan, ia menilai penelitian yang dihasilkan selama ini perlu lebih diarahkan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya digitalisasi tata kelola fakultas. Menurutnya, pelayanan administrasi yang masih dilakukan secara manual dan berlapis dapat menyita waktu mahasiswa sehingga mengganggu aktivitas akademik.

Melalui program kerjanya, Arba menawarkan penguatan Outcome-Based Education (OBE), transformasi pembelajaran inovatif, pengukuran capaian pembelajaran lulusan (CPL), serta integrasi layanan akademik dan administrasi dalam satu platform digital.