Sementara itu, Keir Starmer menjawab tekanan internasional dengan ultimatum yang tegas terhadap Israel.

"[Israel harus] mengakhiri situasi yang mengerikan di Gaza, menyetujui gencatan senjata dan berkomitmen untuk perdamaian jangka panjang yang berkelanjutan, (dan) menghidupkan kembali prospek (solusi dua negara)," ucap Starmer.

Langkah ketiga negara ini, Prancis, Inggris, dan Kanada, dipandang sebagai bentuk desakan diplomatik yang kuat kepada Israel. Mereka berharap pengakuan terhadap Palestina dapat menciptakan momentum baru untuk mendorong perundingan damai yang realistis di tengah konflik yang terus memburuk.

Sikap berani ini muncul di tengah tekanan global yang semakin meningkat terhadap Israel. Data dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan lebih dari 100 warga Gaza, sebagian besar anak-anak, meninggal karena kelaparan. Lebih dari 900 ribu anak kini mengalami kelaparan akut, dan sekitar 70 ribu menunjukkan tanda-tanda malnutrisi.

Dengan deklarasi yang akan disampaikan di panggung PBB September mendatang, dunia menanti apakah pengakuan resmi terhadap Palestina oleh kekuatan besar ini akan membawa angin segar bagi perdamaian, atau justru memperuncing konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. (C)