Saya bukan kriminolog, polisi, forensik, politisi, ahli hukum, pokrol, dan juga tidak dalam posisi terkait langsung atau tidak langsung dengan peristiwa penghilangan nyawa itu dan upaya-upaya pengungkapannya.
Melalui tulisan ini, saya ingin memercayai tim bentukan Kapolri itu. Berharap, hasil dari rentetan kerja-kerja tim akan menyibak kabut yang menyaputi peristiwa di rumah seorang petinggi Polri itu, tuntas terurai dari “a” sampai “z”. Dengan begitu, masyarakat lepas dari rasa penasaran di tengah “seliweran” komentar dan isu yang mungkin sebenarnya juga tak mereka pahami, kecuali bermain-main dalam logika.
Catatan yang tak kalah pentingnya bagi Polri, peristiwa itu terjadi ketika Polri masih harus terus berbenah diri. Juga, dalam suasana Hari Bhayangkara yang antara lain ditandai oleh penganugerahan “Hoegeng Award” kepada tiga pejabat Polri pilihan masyarakat. Almarhum Hoegeng, adalah Kapolri ke-5, yang diakui publik dan Kapolri sebagai teladan. Hoegeng adalah “sosok polisi yang berani mengambil risiko hidup sederhana dan resik berbasiskan kejujuran.”
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam berbagai kesempatan publik kerap “menantang”: Polri terbuka dikritik demi perbaikan.
Tim Jenderal
