Satu saja di antara keempatnya (harta, kekuatan, jabatan atau kekuasaan, dan ilmu)  yang “bekerja”, sudah luar biasa dahsyatnya bila diwujudkan untuk menjernihkan persoalan. Demikian pula bila sebaliknya. Apalagi, bila keempatnya bersatu menjadi kekuasaan untuk kebajigan. “Berbuatlah untuk kebaikan dan kebenaran sesuai kekuasaan yang dimiliki,” begitu lebih kurang bunyi pesan moral dan agama.    

Oh iya, di antara kekuasaan yang mencita-citakan terwujudnya kebenaran dan kebaikkan, ada kebiasaan sehari-hari yang dijalankan oleh para jenderal dalam tim tadi sejak mengawali karirnya, ketika masih menjadi bagian dari militer maupun sipil seperti saat ini. Ketika Kapolri memerintahkan terlibat dalam tim, pastilah mereka  mengulanginya: “Siap laksanakan, jenderal!”.

Itu sudah mendarah-daging. Dalam keseharian,  kebiasaan “Siap Bang!” pastilah juga dilakukan oleh E kepada J (semasa hidupnya) tanpa membantah. Apalagi terhadap jenderal. Menggapai pangkat perwira menengah saja, bagi mereka yang basisnya  bintara atau tamtama, adalah suatu hal yang amat mereka impikan.

Selamat bertugas tim jenderal! (*)