Mahfud diyakini bukan sosok seperti Ma'ruf Amin, yang bisa menerima diposisikan dirinya sebagai cawapres hanya sekadar mengkomunikasikan kebijakan pemerintahan semata. Mahfud mengingatkan kita akan sosok cawapres Jusuf Kalla (JK), di periode pertama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
JK yang lebih berperan besar, sehingga JK sempat dianggap the real president. JK juga mencolok di era Jokowi periode pertama. Pemerintahan Jokowi riuh-rendah karena Presiden dan Wakil Presiden sama-sama berpengaruh.
Kehadiran Mahfud bersama Ganjar ditenggarai akan terjadi layaknya dua nakhoda pemerintahan. Riuh-rendah pemerintahan akan menghangat di antara dua kepentingan capres dan cawapres.
Hanya bedanya, Mahfud sosok politisi non-partai artinya ia berdiri untuk kepentingan masyarakat seperti ditunjukkannya selama ini. Berbeda dengan Ganjar yang harus mengayuh kepentingan dari PDIP maupun partai-partai lain di pemerintahan sebagai konsekuensi politisi partai.
Ganjar juga diyakini yang memungkinkan akan lebih banyak bersama masyarakat, bermain media sosial untuk menghibur dirinya, mengurangi ketegangan dirinya bekerjasama dengan Mahfud. Ini dilakukan Ganjar untuk menghindari persepsi negatif publik terhadap dirinya sebagai presiden.
