Salah satu mesin pengolahan kakao setengah jadi skala bisnis yang saat ini berada di kawasan pengolahan kakao (kakao center) Desa Ponggiha, Kecamatan Lasusua. Foto: Muh Risal H/Telisik

 

"Mesin dulu kapasitasnya hanya untuk produksi skala rumahan. Paling bisa mengelola 100 kilogram bahan baku kakao," terangnya, Selasa (20/3/2023).

Mesin yang didatangkan langsung dari Kabupaten Jember, Jawa Timur seharga Rp 6 miliar lebih itu, katanya, mampu menghasilkan berbagai produk olahan kakao setengah jadi yang dulunya tidak mampu dihasilkan mesin lama.

Salah satunya, olahan kakao dalam bentuk nips, coklat bubuk (cacao powder), bahkan mempu memproduksi lemak atau minyak kakao.

"Semua itu nantinya bisa diproduksi di kakao center tergantung permintaan pasar atau buyer termasuk biji kakao fermentasi dan non fermentasi," jelasnya.