Untuk menghasilkan olahan kakao yang sesuai standar dan keinginan pembeli, Disbunnak Kolaka Utara menggandeng konsultan merangkap teknisi dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar yang memahami betul alur ekspor kakao ke negara luar.
(5).jpg)
"Beda negara, beda standar karena itu kami menggandeng konsultan sekaligus teknisi dari Unhas agar kualitas bagus dan pembeli dari negara luar tertarik untuk membeli," bebernya.
Saat ini lanjutnya, pihaknya tengah melakukan identifikasi mesin baru sambil menunggu tambahan daya listrik untuk pengoperasian mesin tersebut. Jika daya sudah terpenuhi maka mesin dapat berproduksi.
"Mesin kapasitas besar ini membutuhkan daya di atas 100.000 Watt, sementara sudah kita penuhi 70.000 Watt. Sisanya 35.000 Watt akan dipenuhi secepatnya. Anggarannya sudah siap yakni Rp 100 juta," ujarnya.
