Sementara itu, konsultan sekaligus teknisi dari Unhas, Rusmadi optimis dengan mesin baru itu yang bakal mampu memenuhi permintaan pasar luar negeri.
"Tahun lalu Dinas Perkebunan dan Peternakan sudah ekspor perdana 1 ton. Itu di luar dari permintaan lokal, sebenarnya tahun lalu juga ada pembeli yang menginginkan kakao fermentasi sebanyak 8 ton hanya tidak bisa dipenuhi," ungkap dia.
Baca Juga: 4 Persoalan Bayangi Perjalanan Pembangunan Kolaka Utara 2024
Hal itu disebabkan waktu yang diberikan pembeli cukup singkat kurang dari satu bulan, sementara waktu itu stok kakao fermentasi di gudang kosong.
"Rugi juga sebenarnya. Sekarang buyer saya itu beralih ke Thailand," imbuhnya.
