Memilih bersama Jokowi menunjukkan PSI telah mengabaikan kemandirian politik sebagai partai modern, PSI lebih memilih simbol tokoh meski usang ketimbang membangun kekuatan organisasi berdasarkan ideologi.
Pilihan PSI ini memungkinkan partai ini akan mengalami kondisi internal yang tidak solid. Potensi PSI terbelah dalam dua kubu memungkinkan terjadi antara kelompok oportunis yang mendukung dengan menilai bahwa Jokowi sebagai aset politik strategis yang dapat memperkuat legitimasi, memperluas jaringan politik dengan “perahu relawan Jokowi,” dan potensi peningkatan elektoral.
Tak menutup kemungkinan akan adanya kelompok pembaruan. Identitas mereka dibangun dengan dasar rasionalitas, yang menilai pengaruh politik Jokowi telah menurun, juga dominasi figur Jokowi berpotensi menggeser identitas asli PSI yang selama ini dibangun sebagai partai anak muda dengan citra independen dan progresif dalam gagasan serta citra partai tersebut.
Mereka juga khawatir ke depannya bahwa keputusan-keputusan strategis partai akan lebih banyak dikaitkan dengan strategi Jokowi dibandingkan proses kelembagaan internal. Kemasan kritik mereka adalah kehadiran Jokowi lebih banyak merugikan ketimbang keuntungan.
Tak dimungkiri potensi internal akan terbelah menjadi dua kubu memungkinkan terjadi, realitasnya saat ini saja kondisi PSI sudah terbagi menjadi dua faksi yakni Faksi kader-kader murni dan faksi kader “kutu loncat” dari partai lain yang bergabung ke PSI atau orang-orang lama versus orang-orang baru.
