Meski sebagian kalangan menilai positif akan hal ini dengan dalih mampu menyerap pekerja lokal, faktanya bekerja di dua perusahaan itu tidak gratis. Dengan perekrutan yang ketat, tetap saja untuk dapat lolos bekerja, calon pekerja dimintai "pelicin."

Ditambah lagi pekerja yang diloloskan diberikan posisi sebagai tenaga operator dan administrasi, sesuai kualifikasi yang dibutuh perusahaan (inikatasultra.com, 21/06/20). Tenaga ahli hanya dipegang oleh TKA yang sudah didatangkan dari China.

No free lunch, tidak ada makan siang gratis. Begitu perumpamaan yang bisa menggambarkan kondisi rakyat. Sangat disayangkan ini bisa terjadi, padahal di tengah pandemi begini rakyat butuh makan agar bisa berlanjut hidup.

Dengan dibukanya perusahaan agaknya bisa menjadi solusi atas persoalan rakyat, rakyat bisa berbondong bekerja. Tapi lagi-lagi, rakyat dibiarkan bertarung sendirian.

Ini membuktikan negara masih disetir oleh asing. Sebab investasi, TKA harus didatangkan. Alih-alih membangun daerah, justru merampas hak rakyat.