Meski imbas kedatangan TKA katanya mampu menyerap pekerja lokal. Tapi faktanya pekerja lokal justru ditodong dengan uang "pelicin" untuk tiket masuk perusahaan.

Kebiasaan palak memalak sepertinya sudah jadi tradisi. Inilah yang terjadi jika sistem kapitalisme masih mencengkram. Dalam sistem negara kapitalis, hubungan negara dan rakyat hanya atas untung dan rugi. Rakyat dibutuh jika memang dengannya ada untung didapat.

Dengan kedatangan TKA dinilai mampu mengurangi pengangguran, sebab banyak rakyat lokal yang akan dipekerjakan nantinya. Faktanya untuk masuk menjadi pekerja saja harus bayar. Ini menunjukkan negara seakan hanya regulator, sementara rakyat dibiarkan mengurus sendiri kebutuhannya.

Islam, penjamin tuntas hidup rakyat. Lain sistem tentu lain perlakuan. Kapitalisme mengabaikan rakyat. Berbeda dengan Islam, yang begitu memperhatikan rakyat. Jika kapitalisme bebas bekerja dan peroleh kehidupan layak bagai mimpi di siang bolong, maka dalam Islam semuanya adalah kenyataan, bukan lagi mimpi.

Sejarah membuktikan bahwa Islam mampu memberikan kehidupan yang layak bagi rakyat. Seperti di masa pemerintahan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, sampai-sampai tak ada yang mau menerima zakat, sebab seluruh kebutuhan rakyat benar-benar terpenuhi.