Baca juga: 11 Rumah di Wakatobi Dihantam Puting Beliung
"Setiap penyelenggaraan ibadah, kita selalu berkoordinasi dan saling komunikasi, apalagi di Bulan Ramadan seperti ini. Kita tanya ibadah mereka hari apa. Kalau kebetulan waktunya bertepatan dengan ibadah kita, maka pengeras masjid kita kecilkan. Begitu pun sebaliknya. Seperti saat Ramadan sekarang mereka ada kebaktian yang bertepatan dengan tarawih, jadi jadwal kebaktian mereka majukan," ujar Sulfakri.
Pimpinan Jemaat Gereja Pantekosta Bukit Zaitun Pendeta David Agus Setiawan mengakui, masyarakat Kota Kendari sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, terutama dalam kegiatan ibadah. Oleh sebab itu, tak heran jika kedua bangunan rumah ibadah tersebut tetap kokoh berdampingan hingga sekarang.
"Dari dulu juga kita sudah hidup berdampingan tanpa pernah ada rasa saling terganggu. Saat-saat masjid belum lama berdiri, mereka belum punya pompa air sehingga kalau mau wudu agak kerepotan. Karena kami waktu itu sudah punya pompa air, ya silakan ambil selang dan tarik airnya ke masjid," ucap David.
Keharmonisan antara dua umat beragama ini pun, kata David, terlihat saat mereka membersihkan lingkungan sekitar. Jika yang melakukan kerja bakti adalah pihak masjid, maka halaman gereja juga ikut dibersihkan. Begitupun sebaliknya, jika mereka yang mengadakan kerja bakti, maka halaman masjid juga mereka bersihkan.
