Baca Juga: Kisah Mualaf Asal Konsel Jalankan Puasa Ramadan Pertama Kali

Dari informasi yang dihimpun Telisik.id, Hepatirangga bagi masyarakat Wanci dilakukan setelah salat tarawih, kemudian ketika pulang dari sembahnyang para ibu akan menyalakan lilin di sudut rumah dan kemudian para gadis akan memakai hepatirangga.

Hepatirangga sendiri dilakukan dengan cara mengunyah daun pacar atau bisa dengan cara ditumbuk halus. Kemudian diletakan di kuku tangan lalu ditutupi menggunakan daun kunyit atau daun pisang. Tidak lupa masyarakat setempat mengikat Patirangga agar tidak jatuh. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil dan warna merah yang baik.

“Biasanya kami di sini memakai patirangga di malam akhir Ramadan, patirangganya akan kami buka ketika subuh nanti untuk mendapatkan warna merah yang bagus,” ungkapnya.

Secara umum, hepatirangga bisa dikatakan menyerupai hena atau kuteks, salah satu bentuk untuk mewarnai kuku namun dengan cara yang modern. Perbedaannya terletak pada warna kuku yang dihasilkan merah alami dan bisa bertahan lama.