Adonan tombole sendiri dibungkus dengan daun kelapa, daun pisang atau daun apa saja yang tidak mempengaruhi cita rasa tombole. Pemanggangannya juga masih terbilang sederhana, memanfaatkan batu panas yang ditimbun dalam bara api. Kemudian tombole dimasukan ke dalam lubang galian lalu ditutupi dengan daun pisang. Sementara tanah digunakan untuk menutupi tempat yang dapat dilalui panas.

Baca Juga: Dinas Kebakaran Tangkap Ular Phyton di Rumah Warga Lepo-Lepo

Menurut ina-ina (panggilan untuk orang tua perempuan di Tomia) setempat kepada Telisik.id mengatakan, hetombole biasanya memakan waktu 1 hari dimulai dari pengolahan ubi, proses pencampuran adonan dan biasanya dipanggang sore hari dan bisa diambil malam hari. Selesai isya baru diambil.

Untuk rasa, masyarakat Tomia biasanya menyesuaikan dengan selera. Ada yang menyukai rasa original tanpa pemanis tambahan, dan ada juga yang menambahkan dengan gula pasir atau gula batu sehingga memiliki cita rasa yang manis. (B)

Reporter: Boy Candra Ferniawan