Dalam pelaksanaannya, ratibu terdiri dari tiga tahapan yang penting. Tahap pertama adalah kafongkorano ratibu, yaitu pembukaan pelaksanaan ratibu yang dilakukan dua malam setelah pemakaman. Tahap kedua adalah poratibu, di mana ratibu dilakukan di dalam sebuah kamar khusus dengan menggunakan kelambu selama 27 kali setelah melaksanakan salat lima waktu.
Pada tahap ini, para lebe yang melakukan ratibu membaca kalimat Laa Ilaaha Illa Allah sebanyak 210 ribu kali. Tahap terakhir adalah kasongkono ratibu, yaitu penutupan ritual ratibu yang dilakukan setelah salat Subuh pada malam kelima. Penutupan ratibu seringkali dirangkai dengan penyembelihan kambing sebagai akikah bagi almarhum/almarhumah yang diratibukan.
(1).jpg)
Ratibu bukan hanya sebuah ritual kosong, melainkan sarat dengan makna simbolik yang mendalam. Dalam pelaksanaannya, simbol-simbol yang mewakili anggota tubuh manusia diatur secara urut, mencerminkan penghormatan dan penyucian bagi arwah yang meninggal. Dalam tatanan ratibu, pisang raja yang sudah masak melambangkan jari-jari kaki manusia dan diletakkan di bagian paling bawah.
Kemudian, lapa-lapa dan pisang raja diatur sedemikian rupa, mewakili lengan manusia. Di atasnya, disusun piring yang berisi berbagai makanan simbolik seperti telur rebus, telur kasinganga, manu kao wei, manu kasinganga, kue-kue, dan lainnya, yang melambangkan anggota tubuh manusia. Puncak dari susunan ini adalah nasi putih yang dicampur dengan beras merah dan ditutup dengan telur dadar, melambangkan kepala manusia.
