Baca Juga: Gagasan Elite Politik Minus Empati
Energi kita harusnya diarahkan kepada perubahan secara mendasar yakni pemikiran secara menyeluruh bahwa negeri kita hari ini sedang tidak baik-baik saja, kezaliman kian nampak, kesewenang-wenangan penguasa dalam menetapkan kebijakan, dan tata kelola negara yang masih perlu perbaikan harusnya menjadikan pemicu untuk umat ini bergerak.
Jika sepak bola yang berkaitan dengan hobi ataupun kesenangan begitu kita perjuangkan, apatah lagi urusan akhirat yang sudah jelas akan kita songsong. Jangan karena fanatik justru melupakan tujuan penciptaan kita. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (TQS. Az Zariyat: 56)
Allah subhanallahu wa ta’ala memerintahkan kita bersatu bukan dibawah bendera atau dasar kecintaan kepada golongan, sebab agama ini adalah agama kasih sayang yang tidak membatasi kecintaan hanya terbatas golongan tertentu, “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara…” (TQS. Ali Imran:103).
Semoga tragedi Kanjuruhan adalah kasus terakhir dalam kasus persepak bola nasional dinegeri ini dan semoga korban meninggal Allah ampuni dosa-dosanya, dan menerima amal kebaikan mereka semasa hidup di dunia. Amin. (*)
