Selanjutnya, solusi taktis kedua adalah digitalisasi destinasi dan inisiatif Duta Perantau. Pemerintah daerah wajib mengaktivasi ekosistem pembayaran non-tunai di seluruh titik wisata pesisir karena perantau telah terbiasa dengan gaya hidup cashless.
Merujuk pada penelitian McKinsey mengenai akselerasi ekonomi digital, penggunaan platform pembayaran digital di wilayah pedesaan terbukti meningkatkan frekuensi transaksi sebesar 20% karena faktor kemudahan. Selain itu, pemberian insentif berupa Paspor Wisata Mudik atau potongan harga bagi pemudik yang mengunggah keindahan pulau di media sosial akan menciptakan kampanye pemasaran global secara organik.
Perantau sukses ini, dalam perspektif komunikasi pemasaran, merupakan Key Opinion Leader (KOL) autentik dengan kredibilitas tinggi di mata jaringan sosial metropolitan. Unggahan mereka adalah investasi promosi jangka panjang bagi pariwisata kepulauan. Langkah struktural ketiga adalah diversifikasi atraksi melalui Festival Pulang Kampung.
Baca Juga: Puasa, Sabar, dan Cahaya Ilmu di Ruang Kelas
Banyak daerah kepulauan gagal menangkap daya beli pemudik karena minimnya agenda kegiatan, serta objek wisata yang seringkali tidak siap atau kekurangan personel. Pemerintah daerah harus mengorkestrasi pelaku usaha lokal untuk menyelenggarakan acara budaya yang melibatkan pemudik, seperti lomba perahu tradisional atau festival kuliner laut malam hari.
