Strategi ini bertujuan untuk memperpanjang durasi tinggal (length of stay) para perantau di luar rumah keluarga inti. Data Kementerian Pariwisata menunjukkan setiap penambahan satu hari durasi tinggal wisatawan domestik dapat meningkatkan pengeluaran rata-rata per kapita sebesar 15-20%, yang mengalir langsung ke penyedia jasa penginapan, penyewaan perahu, hingga pemandu wisata lokal.
Terakhir, pemerintah daerah harus memfasilitasi Forum Investasi Diaspora di sela masa mudik. Mengingat banyak pemudik yang merupakan profesional atau pengusaha sukses, momentum kepulangan mereka harus dimanfaatkan untuk menawarkan peluang investasi pada proyek pariwisata berkelanjutan, seperti pembangunan eco-resort atau pengolahan limbah pesisir.
Secara tujuan, ini adalah cara elegan untuk mengubah pola konsumsi pemudik yang bersifat jangka pendek menjadi komitmen pembangunan jangka panjang. Dengan mengintegrasikan kekuatan finansial perantau, kearifan lokal, dan fasilitas kebijakan daerah, mudik kepulauan tidak lagi menjadi sekadar beban tahunan bagi infrastruktur transportasi. Fenomena ini akan menjelma menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru yang menghapus stigma bahwa kemakmuran hanya membentang di daratan utama.
Sehingga mudik bukan sekadar aktivitas pulang, melainkan upaya yang bertujuan untuk menjahit kembali jubah sosial dan ekonomi bangsa. Melalui sinkronisasi kebijakan antara penguatan infrastruktur laut dan pengembangan pariwisata berbasis komunitas, laut bukan lagi pemisah, melainkan jembatan kesejahteraan yang membawa kesejahteraan ke setiap beranda rumah di pulau-pulau terluar nusantara. (*)
