Reaksi keras juga datang dari pemerintah Kolombia. Kementerian Luar Negeri negara tersebut menyatakan bahwa langkah AS justru menciptakan “ketegangan yang tidak perlu”. Presiden Kolombia Gustavo Petro turut mendesak Washington agar “kembali menghormati tatanan hukum internasional”. Ia menekankan bahwa rakyat Venezuela memiliki hak penuh menentukan pemerintahan mereka.

Baca Juga: Rakyat BRICS Mulai Ambil Peran Baru dalam Kerja Sama Global di Brasil

Dari Kuba, Menteri Luar Negeri Bruno Rodriguez menyoroti adanya gangguan elektromagnetik yang menurutnya disebabkan aktivitas AS di Karibia. “Ini merupakan bagian dari eskalasi agresi militer dan perang psikologis,” ujarnya, seraya menilai langkah tersebut membahayakan stabilitas kawasan.

Sejumlah organisasi politik di Republik Dominika juga mengecam AS karena menjadikan Karibia sebagai lokasi eksperimen militer yang mengancam keselamatan penerbangan. Pernyataan serupa datang dari Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei yang menilai tindakan Washington sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap norma internasional”.

Sejak awal September, AS tercatat telah melancarkan lebih dari 20 serangan terhadap kapal yang diduga terkait penyelundupan narkoba, menyebabkan lebih dari 80 korban jiwa.