Setiap Muslim wajib beriman bahwa musibah apa pun seperti gempa bumi, banjir, wabah penyakit telah ditetapkan Allah SWT dalam Lauhul Mahfuzh. Sesuai kewajiban menerima ketentuan Allah ini dengan lapang dada (ridha). Pilih Allah SWT berfirman, "Tiada salah satu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS al-Hadid [57]: 22)
"Kita pun wajib menerima taqdir Allah ini dengan rela, sesuai sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Tirmidzi, "Sesungguhnya besarnya pahala itu seiring dengan besarnya cobaan. Sesungguhnya Allah jika mencintai satu kaum, maka Allah memberi cobaan kepada mereka. Maka barangsiapa yang ridha (terhadap cobaan itu), maka dia mendapat ridha Allah. Barangsiapa yang murka, maka dia mendapat murka Allah," tulisnya.
Baca juga: Sejarah Masjid Raya Medan Menjadi Daya Tarik Wisatawan
Jadi, lanjut dia, terhadap suatu musibah yang menimpa, seharusnya seorang Muslim menyikapinya dengan ridha kepada taqdir Allah, bukan dengan menggerutu atau malah menghujat Allah SWT. Misalnya dengan berkata,”Ya Allah, mengapa harus aku? Apa dosaku ya Allah?”
Hujatan terhadap Allah Azza wa Jalla ini sungguh kurang ajar dan tidak sepantasnya, sebab Allah SWT tidak bisa dimintai tanggung jawab atas apa pun yang telah menjadi kehendak-Nya, sebagaimana Allah SWT berfirman, “Dia [Allah] tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah (manusia) yang akan ditanyai.” (QS al-Anbiyaa` [21] : 23).
