Udinese dalam pernyataannya mengingatkan bahwa musim terobosan Zanetti datang pada 2020/2021, ketika ia membawa Venezia promosi ke Serie A untuk pertama kalinya dalam 19 tahun. Setelah satu musim di kasta tertinggi bersama Venezia, ia kemudian menangani Empoli dan Verona, dan membawa Verona finis di peringkat 14 pada musim 2024/2025. Rekam jejak itu kini diharapkan berulang di Udine, meski konteksnya berbeda karena ia datang di tengah musim dan di tengah krisis.

"Kini Paolo Zanetti siap memulai tantangan baru di Udinese," kata klub dalam pernyataan resminya.

Bagi Zanetti, laga melawan Venezia bukan sekadar pertandingan pembuka, melainkan ujian awal atas kemampuannya mengubah suasana ruang ganti dalam waktu singkat. Kemenangan di laga tersebut akan memberi napas baru bagi Udinese dan memperpendek jarak dengan tim-tim di atas zona degradasi. Sebaliknya, hasil buruk akan memperpanjang tekanan dan membuat tugas penyelamatan semakin berat.

Dampak bagi Perburuan Zona Aman

Pergantian pelatih di tengah musim selalu mengandung risiko, tetapi Udinese tampaknya menilai risiko bertahan dengan hasil buruk jauh lebih besar. Dengan lima poin dari sepuluh laga, Udinese membutuhkan perubahan nyata dalam perolehan poin, bukan sekadar perbaikan permainan. Zanetti dituntut menghadirkan hasil sejak laga pertamanya, karena setiap pekan yang terlewat tanpa kemenangan akan semakin mempersempit ruang gerak klub.

Klub-klub lain yang sudah lebih dulu mengganti pelatih musim ini menjadi gambaran betapa kerasnya persaingan di Serie A. Fiorentina, Bologna, Parma, dan Venezia telah menempuh jalan yang sama, dan Udinese kini bergabung dalam daftar tersebut. Situasi ini menegaskan bahwa kesabaran manajemen di liga Italia semakin tipis ketika tim terperosok ke papan bawah.