"Ya, saya memang mengutamakan orang-orang muda. Mereka bagi saya adalah “binatang yang lain”, yang selalu ingin menggelandang dalam perburuan hidup yang sesungguhnya," tuturnya seperti dilansir dari balairungpress.com.
Cara mengajarnya pun sangat unik. Ia seolah memahami betul bahwa manusia bukanlah gelas kosong yang harus diisi, melainkan api yang hanya perlu disulut sedikit saja akan menari dalam geloranya sendiri.
Baca juga: Ebiet G Ade: Memetik Nadi Jiwa dalam Melodi
Ia kerap memperkenalkan sastra sebagai bagian yang terintegrasi dari kehidupan. Ia sangat lihai menunjukkan bahwa guru terbaik adalah pengalaman.
Seperti dilansir dari tirto.id, Teguh Ranusastra Asmara pernah suatu malam diajak menyusuri Malioboro. Beberapa kali Umbu berhenti dan meminta Teguh mengamati sekelilingnya. Ditunjuknya seorang gelandangan yang tertidur di emperan sebuah toko.
