“Dik, itu puisi! Coba amati, rasakan dan renungkan. Bangun puisi dengan suasana malam seperti ini. Cari kata yang sederhana untuk mewakili ide adik," kenang Teguh meniru seruan Umbu.
Umbu sangat memahami anak muda sebagai masa yang berapi-api. Pemuda dengan segala keingintahuannya acapkali "nakal". Di balik semua ia memilih tak ingin memvonis. Ia yakin setiap manusia punya potensi.
"Saya menganggap itu sebagai bagian dari misteri penciptaan. Sayangnya, kita cenderung memvonis mereka. Tak tahu adatlah, tak tahu diuntunglah, apalah orang bilang. Tapi ingat, di balik sikap yang demikian, tersimpan kekuatan yang mengejutkan dan daya kreativitas yang meledak-ledak," teguhnya seperti dilansir dari balairungpress.com.
Karena itu, Umbu selalu mengapresiasi setiap karya anak-anak muda yang bertandang di PSK. Ia menunjukan bahwa setiap karya anak manusia, patut untuk diapresiasi.
“Sebagai tradisi, Umbu meminta yang hadir membacakan puisinya. Maka, enam penyair muda itu mencoba membacakan puisi yang dibawa, terutama yang belum pernah dimuat di media massa," kenang Teguh dilansir dari tirto.id.
