Hal yang kerap terlupa dari generasi pendidik saat ini adalah apresiasi kepada setiap potensi anak didik. Hal yang paling penting dari itu adalah membangun kepercayaan diri anak didik. Itulah tiang yang menopang teguhnya potensi mereka di masa yang akan datang.
Gaya yang khas itu telah berhasil membangun iklim sastra yang kreatif. Hal itu senada dengan pengamatan Emha Ainun Najib dan Arwan Tuti Artha seperti dilansir dari ensiklopedia.kemdikbud.go.id.
"Sastra Yogya seringkali jadi nostalgik, romantik, dan nyinyir," ungkap Emha. Arwan melanjutkan, "Beberapa sastrawan potensial hanya berhasil memacu dirinya, sedikit mengguncangkan situasi, tetapi tak seorang pun mampu menempati peranan Umbu sebagai ustadz," ucapnya.
Baca juga: Indah Luwu Utara: Kepala Daerah Perempuan Pertama di Sulsel
Tahun 1975, Umbu Landu Paranggi meninggalkan Yogya dan kemudian bermukim di Denpasar, Bali. Di Pulau Dewata tersebut ia tetap melanjutkan dedikasi mendidik generasi muda. Melalui asuhannya di Bali itu ada nama yang turut mewarnai khazanah sastra nasional, antara lain Raka Kusuma.
