Hal yang juga inspiratif dan menyentak kesadaran dari sikap Umbu adalah menolak eksistensi dan ketenaran sebagai penyair. Emha mengungkapkan hal itu.

“Umbu diam-diam masuk ke percetakan di mana majalah itu dicetak, mencuri puisi-puisinya sendiri dan menyembunyikannya sampai hari ini. Umbu sangat curiga kepada kemasyhuran dan popularitas," demikian Emha dilansir dari tirto.id

Hal yang sama pun diakui oleh Ketua Dewan Juri Penghargaan Akademi Jakarta 2019, Riris K. Toha. Sebagai apresiasi publik atas segala denyut dedikasinya, Umbu dianugerahi penghargaan atas pencapaian sepanjang hayat.

"Selama 50 tahun lebih, tanpa pamrih, tanpa menghendaki panggung dan tanpa jaminan apapun dari masyarakat, dia bekerja hanya untuk membangun kehidupan dan budaya serta siapa Indonesia. Melalui puisi, pembimbingan dan pengembangannya," kata Riris sebagaimana dikutip dari historia.id.

Puisi-puisinya telah tersebar di berbagai media massa seperti Mimbar Indonesia, Gadjah Mada, Basis, Gema Mahasiswa, Mahasiswa Indonesia, Pelopor Yogya, hingga Majalah Kolong. Puisi-puisinya juga terbit dalam antologi bersama, Manifes (1968), Tonggak III (1987), Teh Ginseng (1993), Saron (2018) dan Tutur Batur (2019).