Arif Relano Oba, selaku Sutradara sekaligus penerima manfaat program Dana Indonesiana, membeberkan alasannya mengangkat mayasa sebagai film dokumenter adalah selain ragam ukirnya yang unik, juga proses pembuatan dan makna yang terkandung dalam mayasa tersebut sangat kaya akan nilai-nilai budaya.

“Mayasa dalam bahasa Cia-Cia berarti nisan. Saya tertarik dengan ragam ukir dari mayasa ini, di samping itu seni ukir ini hanya dikhususkan untuk makam atau nisan saja, nanti di filmnya ada juga di highlight beberapa prosesi sebelum akhirnya mayasa ini diletakan,” pungkasnya, Rabu (25/7/2023).

Pemerintah Daerah Buton Selatan melalui Dinas Kebudayaan, memberikan apresiasi tinggi terhadap film dokumenter yang mengangkat kisah seorang pengrajin ukir nisan khas Suku Cia-Cia.

“Film dokumenter ini tidak hanya memperlihatkan aspek kehidupan seorang pengrajin ukir nisan, tetapi juga memberikan sudut pandang yang sangat berharga tentang warisan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat kita. Kami Pemda Buton Selatan sangat mengapresiasi dengan adanya film dokumenter. Ini harus dikenal, dan harus mendunia,” ucap Kepala Dinas Kebudayaan Buton Selatan, La Ode Haeruddin.

Ia juga menambahkan, film itu menunjukkan keindahan seni ukir nisan khas Suku Cia-Cia secara mendalam, serta menggambarkan betapa nilai-nilai luhur dan kearifan lokal begitu erat terkait dengan pekerjaan yang mereka lakukan.