KENDARI, TELISIK.ID - Puasa Ramadan wajib dilaksanakan umat Muslim tidak terkecuali para astronot yang bertugas di luar angkasa. Namun, apakah cara mereka berpuasa berbeda saat berpuasa di Bumi?

Tahun ini, ada astronot Uni Emirat Arab (UEA) Sultan Al Neyadi yang akan berpuasa di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Ia menjadi astronot Arab pertama yang akan menghabiskan waktu lama, yakni 6 bulan di ISS seperti dilansir dari Cnnindonesia.com.

Bagi warga Indonesia, karena lokasi yang berada di sekitar garis kathulistiwa membuat jarak antara matahari terbit dan terbenam di Indonesia selalu stabil di kisaran 13 jam. Waktu terpanjang berpuasa dialami oleh umat muslim yang tinggal di belahan Bumi bagian utara seperti Islandia dan Skotlandia, yang harus berpuasa 15 jam atau lebih.

Di sisi lain, waktu berpuasa muslim di negara belahan selatan Bumi seperti Argentina dan Selandia Baru lebih singkat yaitu hanya sekitar 11 jam atau lebih. Namun, waktu tersebut hanya berlaku di Bumi. Waktu berpuasa bagi astronot di orbit bisa jauh lebih singkat, hal itu jika waktu puasa mereka mengacu kepada matahari terbit dan terbenam.

Menurut NASA dilansir dari Cnbcindonesia, dalam kurun waktu 24 jam, ISS 16 kali mengorbit Bumi. Artinya, dalam kurun waktu sehari, astronot yang menumpang di ISS menyaksikan 16 kali matahari terbit dan 16 kali matahari terbenam.